PERSATUAN DAN KESATUAN DALAM ISLAM

Posted: Selasa, 05 Juni 2012 by masanang mawon in
0


PERSATUAN DAN KESATUAN DALAM ISLAM
Persatuan adalah tiang penyangga daya suatu negara. Kemajuan atau kemunduran suatu negara ditentukan oleh persatuan dan kesatuan bangsanya, Bangsa yang makmur adalah bangsa yang bersatu, bangsa yang hancur adalah bangsa yang berseteru. Pantas, hujjatul Islam Imam Al-Ghazalli menegaskan bersatulah seperti dua tangan ini, jangan bercerai seperti dua telinga ini. Ketika tangan kanan ke depan, tangan kiri he belakang. Ketika tangan kiri ke depan, tangan kanan ke belakang, Akhirnya, kita jalan lenggang kangkung. Tapi, kalau dua-duanya ke depan persis vampire laksana Satria Baja Hitam.

Ilustrasi tersebut menggambarkan betapa pentingnya menjaga kesatuan dan memupuk persatuan diantara kita sebab perbedaan yang muncul dari keragaman di negeri ini, tidak mustahil menjadi pemicu lahirnya panatisme buta, persaingan tidak sehat, perselisihan, gontok-gontokan, perpecahan yang bisa meluluh lantahkan nilai-nilai kebersamaan, merapuhkan persatuan dan tidak mustahil membawa derita dan kehancuran bangsa kita. Na'udzubillah tsuma Na'udzubillah min Dzalik.
Lalu bagaimana Pandangan Islam tentang Persatuan dan Kesatuan? Sebagai jawabannya persatuan dalam Islam adalah tema syarhil qur'an yang kami sampaikan pada kesempatan ini dengan landasan al-Qur'an surat Al-Hujurat, ayat: 13

`` Wahai manusia! Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami jadikan kamu berbagai bangsa dan berbagai puak, supaya kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu bagi Allah, ialah yang paling takwa di antara kamu. Sungguh, Allah Maha mengetahui. Maha sempurna pengetahuan-Nya.”

Hadirin wal Hadirat yang kami hormati
Dari segi balaghah, firman Allah tadi bersirat Kalamul Khabar, mengandung misi informasi, sedangkan secara histories sosiologis, menurut Ibnu Asy-Syakir dalam Kitabul Mubhamat, yang bersumber dari Abu Bakar bin Abu Dawud, ayat tersebut diturunkan sebagai teguran kepada Bani Baydhah yang menolak dinikahkan oleh Rasulullah saw. kepada budak mereka yang bernama Abi Hindin. Pada saat itu, datang Jibril menyampaikan wahyu surat: al-Hujurat ayat 13 tadi, bahwa Allah menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan, bercorak suku, dan berlainan bangsa. Semua memiliki harkat, derajat dan martabat yang sama di hadapan Allah Swt, fungsinya:
agar kamu saling mengenal, menjalin komunikasi harmoni, menebarkan cinta kasih yang tiada pilih kasih serta menyemaikan rasa sayang yang tiada pandang sayang. Demikian penjelasan Imam Alil ash-Shabuni dalam Shafwatut Tafasair.
Dengan kata lain, ayat ini merupakan landasan, theologies yang sangat strategis membangun ukhuwah wathaniyah sebagai pilar persatuan dan kesatuan di negeri tercinta ini. Langkah awalnya, kita harus saling mengenal, bukan saling menutup diri, melecehkan, menghina membanggakan kelompok, suku bangsa, adat-istiadat maupun daerah masing-masing. Sebab sikap seperti itu hadirin merupakan virus-virus persatuan, penghambat persatuan, bahkan penghancur persatuan bangsa. (betul?)
Saudara-saudara, apakah rela bangsa besar yang dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu kita, dengan genangan air mata,cucuran keringat bahkan kocoran darah para syuhada ini harus porak poranda hanya gara-gara kepentingan kelompok, suku dan golongan? Tentu tidak.
Oleh karena itu, kepada saudara-saudaraku se-bangsa dan se-tanah air, marilah kita memperkokoh persatuan diantara kita. Wahai saudara-saudaraku orang jawa,kito sedoyo sedulur.wahai saudara-saudaraku orang melayu,kite smue bersaudare. Kita perkokoh persatuan, kita bina kebersamaan dan kita junjung tinggi semangat bhineka tunggal ika, berbeda-beda tapi satu jua. (setuju?)
Allah Swt. mengisyaratkan agar saya, saudara, dan kita semua memperkokoh persatuan dan kesatuan, serta melarang bercerai berai. Ini terangkat dalam penggalan Surat Ali-Imran ayat 103:
Dan teguhlah sekaliannya berpegang kepada tali Allah. Janganlah berpecah belah antara kamu, Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu, Ketika kamu saling bermusuhan, Lalu kami padukan hati-hatimu, Sehingga dengan karunia-Nya kamu manjadi bersaudara. (QS. Ali Iraran: 103) 


Hadirin yang kami hormati
Demikian penegasan Allah tentang pentingnya memperkokoh persatuan dan kesatuan yang diisyaratkan dalam firmannya diatas tadi,Allah menyuruh bersatu padu dan melarang bercerai berai.
Dengan demikian, semangat yang harus kita tumbuhkan adalah semangat bersatu bukan berseteru, semangat integrasi bukan disintegrasi, dan semangat kompetisi bukan semangat berkelahi. (betul?). Sebab merupakan "Shighatun Nahyi". Sedangkan kaidah mengatakan:
Suatu larangan pada asalnya adalah harram.
Dengan demikian, haram bagi kita berpecah belah, bertingkai pangkai, dan bercerai-berai apalagi dengan sesama insan beriman, satu aqidah, satu Tuhan, dan satu agama, kita harram berpecah belah dan bersengketa. Kenapa? Karena setting sosial turunnya ayat ini, menurut riwayat al-Faryabi dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas adalah berkenaan dengan pertentangan antara kaum Aus dan Khajraz. Sampai-sampai tatkala rasulullah sedang sakit, tiba-tiba terdengar pertentangan antara kaum Aus dan khajraz. Mereka terus terlibat ke dalam bentrokan fisik dengan cara-cara Jahiliyah. Meski dalam keadaan sakit parah, sambil berjalan sempoyongan, beliau berusaha untuk melerai pertengkaran. Nampak tubunya lemas, wajahnya pucat, air mata berlinang membasahi pipi, bibirnya kering bergetar. dengan suara parau terputus-patus beliau bersabda:
"Apakah kamu akan kembali ke dalam tradisi jahiliyah (berpecah belah) setelah datang penjelasan-penjelasan dan aku masih hadir di antara kalian"
Nampak suasana hening mencekam, sementara kaum Aus dan Khajraz, mereka menundukan kepala tanda hormat, berbalut malu kepada baginda rasulullah SAW karena mereka berseteru. Sikap Rasul ini hadirin, merupakan realisasi ukhuwah Islamiyah QS. ali-Imran ayat 103 tadi, yang harus kita teladani. Kenapa? Karena perpecahan antara kaum Aus dan Khajraz merupakan simbol bibit-bibit perpecahan internal Islam Indonesia. Realitas sering menunjukan, terkadang cuma gara-gara perbedaan pendapat berlainan organisasi yang dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan kelompok lantas pisah partai, putus silaturrahmi, berakhir dengan saling tonjok, saling rampok, bahkan saling bacok. Na'udzubillah min Dzallik. Padahal bukankah sesama muslim bersaudara, bukan sesama mu'min ibarat satu bangunan, bukankah sesama insan beriman bagaikan satu tubuh, yang satu sakit yang lain harus merasakan derita kepayahan. Sebab mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, jika internal muslim berseteru maka persatuan bangsa akan terganggu.
Kita masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam harus bersepakat, luka sejarah nusantara, yang menyebabkan derita persada, dikala Situ bondo menjadi lautan api, Timor timur lepas dari NKRI, gerakan sparatis Aceh yang telah banyak menelan korban, tidak boleh terulang kembali. Setuju!? Oleh karena itu mulai detik ini, kita samakan langkah, seragamkan gerak, satukan persepsi, berat sama dipikul ringan sama dijing-jing. Kuntulpis holopis kuntul bar is rawe-rawe rantas malang-malang putung, perbedaan jangan melahirkan perpecahan tapi dengan perbedaan harus saling melengkapi dan menghargai.
hadirin yang dirahmati alllah swt,
ini lah  yang dapat kami sampaikan,apabila ada kata-kata kami yang salah kami mohon ma’af yang sebsar-besarnya,dan saya anang,saya aswir,dan saya                                    cukup dari kami sekaian wassalam......................

0 komentar: